Pengertian
potensi diri adalah kemampuan dan kekuatan yang dimiliki oleh seseorang
baik fisik maupun mental yang dimiliki seseorang dan mempunyai kemungkinan
untuk dikembangkan bila dilatih dan ditunjang dengan sarana yang baik,
sedangkan diri adalah seperangkat proses atau ciri-ciri proses fisik,prilaku
dan psikologis yang dimiliki.
Kekhasan potensi diri yang dimiliki
oleh seseorang berpengaruh besar pada pembentukan pemahaman diri dan konsep
diri. Ini juga terkait erat dengan prestasi yang hendak diraih didalam hidupnya
kelak. Kekurangan dan kelebihan yang dimiliki dalam konstek potensi diri adalah
jika terolah dengan baik akan memperkembangkan baik secara fisik maaupun
mental. Aspek diri yang dimiliki seseorang yang patut untuk diperkembangkan
antara lain:
· Diri fisik : meliputi tubuh dan
anggotanya beserta prosesnya.
· Proses diri : merupakan alur atau arus
pikiran, emosi dan tingkah laku yang konstan.
· Diri sosial : adalah bentuk fikiran
dan perilaku yang diadopsi saat merespon orang lain dan masyarakat sebagai satu
kesatuan yang utuh.
· Konsep diri : adalah gambaran mental
atau keseluruhan pandangan seseorang tentang dirinya
Potensi fisik yang
dimaksud dalam kesempatan kali ini adalah menyangkut dengan keadaan dan
kesehatan tubuh wajah, dan ketahanan tubuh,
sedangkan Potensi psikis berhubungan
dengan IQ (Intelegensi Quotient), EQ ( Emotional Quotient), AQ ( Addversity
quotient) dan SQ ( Spiritual Quotient).
1. Kecerdasan Fisik (Physical Quotient – PQ)
Kecerdasan Fisik (PQ) adalah kecerdasan yang dimiliki oleh tubuh kita.
Kita sering tidak memperhitungkannya. Coba renungkan : Tanpa adanya perintah
dari kita tubuh kita menjalankan sistem pernafasan, sistem peredaran darah,
sistem syaraf dan sistem-sistem vital lainnya.
Tubuh kita terus menerus memantau lingkungannya, menghancurkan sel pembawa
penyakit, mengganti sel yang rusak dan melawan unsur-unsur yang mengganggu
kelangsungan hidup. Seluruh proses itu berjalan di luar kesadaran kita dan
berlangsung setiap saat dalam hidup kita. Ada kecerdasan yang menjalankan
semuanya itu dan sebagian besar berlangsung di luar kesadaran kita.
2. Kecerdasan Intelektual
(Intelligence Quotient – IQ)
IQ adalah kemampuan nalar, atau pikiran orang sering menyebutnya dengan
kemampuan Otak Kiri. Yaitu kemampuan kita untuk mengetahui, memahami,
menganalisis, menentukan sebab akibat, berpikir abstrak, berbahasa,
memvisualkan sesuatu.
Di zaman dulu IQ dijadikan
ukuran utama kecerdasan seseorang. Baru kemudian disadari bahwa konsep dan
batasan-batasan di atas seperti itu terlalu mempersempit kecerdasan tersebut.
Otak kiri bertanggung jawab untuk
“”pekerjaan” verbal, kata-kata, bahasa, angka-angka, matematika, urut-urutan,
logika, analisa dan penilaian dengan cara berpikir linier. Melatih dan membelajarkan otak kiri akan membangun
kecerdasan intelektual (IQ). Otak kanan bertanggungjawab dan berkaitan dengan
gambar, warna, musik, emosi, seni/artistik, imajinasi, kreativitas, dan
intuitif.
Menurut para ahli IQ - Intelligence Quotient, dapat ditingkatkan dengan latihan
sederhanadan mengubah kebiasaan-kebiasaan tertentu, caranya sebagai berikut :
L
Latihan pernapasan dalam
Pernapasan dalam meningkatkan aliran darah dan oksigen ke otak, juga
merilekskan kita sehingga meningkatkan fungsi efektif otak. Cara melakukanya
mudah, pejamkan mata dan tarik nafas lewat hidung, sehingga paru-paru
dipenuhkan sampai kapasitasnya, lalu hembuskan secara perlahan.
Saat melakukan pernapasan dalam hilangkan semua pikiran yang masuk kedalam
kepala anda. Coba jangan pikirkan apapun kecuali efek penenangan dan perileksan
dari saraf dan tubuh. Cara ini sangat berguna dan efektif untuk menyelesaikan
masalah secara kreatif.
Ketika anda selesai melakukan latihan yang hanya perlu
waktu 2 sampai 4 menit ini, kemampuan anda untuk menyelesaikan masalah akan
meningkat paling sedikit 80%. Pikiran akan merasa jernih dalam sekejap jika
dilakukan hanya 5 kali berturut-berturut, anda juga akan lebih bisa
mengkoordinasikan pemikiran sehingga menjadi lebih jelas.
2. Jaga postur tubuh
Postur tubuh dapat menentukan seberapa baik anda berfungsi. Berdiri
bungkuk dan mulut terbuka mengurangi kemampuan berpikir jernih.Untuk
membuktikan hal ini, coba duduk membungkuk dengan mulut terbuka sambil
menyelesaikan soal matematika didalam pikiran.Kemungkinan anda akan menemukan,
anda tidak bisa menyelesaikan masalah secara cepat dan tidak bisa berfikir
secara jernih.
Lakukan olahraga untuk membantu meningkatkan aliran darah ke otak. Aerobik apa
saja bisa memberikan hasiat ini.
3. Perhatikan makanan
Jangan makan segala sesuatu yang mengandung gula sederhana secara
berlebihan. Semua karbohidrat sederhana, jika dimakan sejumlah banyak, secara
umum membuat lelah yang bukan hanya akan membuat anda lebih lamban dalam
berpikir, tapi juga membuat lamban secara fisik.
3. Kecerdasan Emosional (Emosional Quotient – EQ)
EQ
adalah pengetahuan mengenai diri sendiri, kesadaran diri, kepekaan sosial,
empati dan kemampuan untuk berkomunikasi dengan baik dengan orang lain.
Kecerdasan Emosi adalah kepekaan mengenai waktu yang tepat, kepatutan secara
sosial, dan keberanian untuk mengakui kelemahan, menyatakan dan menghormati
perbedaan. EQ digambarkan sebagai kemampuan otak kanan dan dianggap lebih
kreatif, tempat intuisi, pengindraan, dan bersifat holistik atau menyeluruh
Penggabungan pemikiran (otak kiri) dan perasaan (otak kanan) akan
menciptakan keseimbangan, penilaian dan kebijaksanaan yang lebih baik. Dalam
jangka panjang, kecerdasan emosional akan merupakan penentu keberhasilan dalam
berkomunkasi, relasi dan dalam kepemimpinan dibandingkan dengan kecerdasan
intelektual (nalar).
Seseorang yang memiliki IQ tinggi tetapi memiliki kecerdasan emosionalnya
(EQ) rendah, dia tidak tahu bagaimana membangun hubungan dengan orang lain.
Orang itu mungkin akan menutupi kekurangannya itu dengan bersandar pada
kemampuan intelektualnya dan akan mengandalkan posisi formalnya.
Pengertian EQ : Istilah kecerdasan emosi (EQ) baru dikenal secara luas pada
pertengahan tahun 1990 dengan diterbitkannya buku Darnel Goleman : Emotional
Intelligence. Goleman menjelaskan bahwa kecerdasan emosi (Emotional
Intellegence) adalah kemampuan untuk mengenali perasaan kita sendiri dan
kemampuan mengelola emosi dengan baik pada diri sendiri dan dalam hubungan
dengan orang lain.
Menggunakan ungkapan Howard Gardner, kecerdasan emosi terdiri dari
kecakapan, diantaranya : intrapersonal intelligence dan interpersonal
intellegence. Intrapersonal intelligence merupakan kecakapan
mengenali perasaan kita sendiri yang terdiri dari :
A. Kesadaran diri meliputi :
keadaan emosi diri, penilaian pribadi, percaya diri.
B. Pengaturan diri meliputi :
pengendalian diri, dapat dipercaya, waspada adaptif dan inovatif.
C. Motivasi meliputi :
dorongan berprestasi, komitmen, inisiatif dan optimis.
Sedangkan interpersonal intelligence merupakan kecakapan berhubungan
dengan orang lain yang terdiri dari :
A. Empati meliputi : memahami
orang lain, pelayanan, mengembangkan orang lain, mengatasi keragaman dan
kesadaran politis.
B. Ketrampilan
sosial meliputi : pengaruh, komunikasi, kepemimpinan, katalisator
perubahan, manajemen konflik, pengikat jaringan, kolaborasi dan koperasi serta
kerja team.
Tiga
langkah kembangkan EQ :
A. Membuka hati : ini adalah
langkah pertama karena hati adalah simbol pusat emosi. Hati kitalah yang merasa
damai saat kita berbahagia, hati kita merasa tidak nyaman ketika sakit, sedih,
marah atau patah hati. Kita mulai dengan membebaskan pusat perasaan kita dari
impuls dan pengaruh yang membatasi kita untuk menunjukkan cinta satu sama lain.
B. Menjelajahi dataran emosi : sekali
kita telah membuka hati, kita dapat melihat kenyataan dan menemukan peran emosi
dalam kehidupan. Kita dapat berlatih cara mengetahui apa yang kita rasakan.
Kita mengetahui emosi yang dialami orang lain. Singkatnya, kita menjadi lebih
baik dan bijak menanggapi perasaan kita dan perasaan orang di sekitar kita.
C. Mengambil tanggung jawab : untuk
memperbaiki dan mengubah kerusakan hubungan, kita harus mengambil tanggung
jawab. Kita dapat membuka hati kita dan memahami peta dataran emosional orang
di sekitar kita.
4. Kecerdasan Spriritual (Spiritual Quotient – SQ)
Sebagaimana
EQ, maka SQ juga merupakan arus utama dalam kajian dan diskusi folosofis dan
psikologis. Kecerdasan spiritual merupakan pusat dan paling mendasar di antara
kecerdasan lainnya, karena dia menjadi sumber bimbingan atau pengarahan bagi
tiga kecerdasan lainnya. Kecerdasan spiritual mewakili kerinduan kita akan
makna dan hubungan dengan yang tak terbatas.
Kecerdasan Spiritual juga membantu kita untuk mencerna dan memahami
prinsip-prinsip sejati yang merupakan bagian dari nurani kita, yang dapat
dilambangkan sebagai kompas. Kompas merupakan gambaran fisik yang bagus sekali
bagi prinsip, karena dia selalu menunjuk ke arah utara.
Selama ini, yang namanya
“kecerdasan” senantiasa dikonotasikan dengan Kecerdasan Intelektual” atau yang
lazim dikenal sebagai IQ saja (Intelligence
Quotient). Namun pada saat ini,
anggapan bahwa kecerdasan manusia hanya tertumpu pada dimensi intelektual saja
sudah tidak berlaku lagi. Selain IQ, manusia juga masih memiliki dimensi
kecerdasan lainnya, diantaranya yaitu : Kecerdasan Emosional atau EQ (Emotional Quotient) dan Kecerdasan Spiritual atau SQ (Spiritual Quotient).
Lima karakteristik orang yang cerdas
secara spiritual menurut Roberts A. Emmons, The Psychology of Ultimate Concerns:
ü kemampuan untuk mentransendensikan
yang fisik dan material
ü kemampuan untuk mengalami tingkat
kesadaran yang memuncak
ü kemampuan untuk mensakralkan
pengalaman seharihari
ü kemampuan untuk menggunakan
sumber-sumber spiritual buat menyelesaikan masalah,dan kemampuan untuk berbuat
baik
Dua karakteristik yang pertama
sering disebut sebagai komponen inti kecerdasan spiritual. Sebagai contoh
perawat menyampaikan doa-doa personalnya dalam salat malamnya, mendoakan
kesembuhan luka kliennya, memuali tindakan dengan bismillah, mengisi waktu
luang dengan Sholat dluha, silaturahmi dengan keluarga klien.
Ciri yang ketiga, terjadi
ketika kita meletakkan pekerjaan biasa dalam tujuan yang agung. Konon, pada
abad pertengahan seorang musafir bertemu dengan dua orang pekerja yang sedang
mengangkut batu-bata. Salah seorang di antara mereka bekerja dengan muka
cemberut, masam, dan tampak kelelahan. Kawannya justru bekerja dengan ceria,
gembira, penuh semangat. Ia tampak tidak kecapaian. Kepada keduanya ditanyakan pertanyaan yang sama, “Apa yang sedang Anda
kerjakan?” Yang cemberut menjawab, “Saya sedang menumpuk batu.” Yang ceria
berkata, “Saya sedang membangun menara mesjid!” Yang kedua telah mengangkat
pekerjaan “menumpuk bata” pada dataran makna yang lebih luhur. Perawat yang
sedang melakukan kompres selayaknya mengatakan “Saya sedang mensyukuri nikmat
Allah yang telah menganugerahkan
air yang sangat banyak manfaatnya”
Ketika
seorang perawat diberitahu bahwa orang kantornya tidak akan sanggup
menyekolahkannya, ia tidak putus asa. Ia yakin bahwa kalau orang itu
bersungguhsungguh dan minta pertolongan kepada Tuhan, ia akan diberi jalan.
Bukankah Tuhan berfirman, “Orang-orang yang bersungguh-sungguh di jalan Kami,
Kami akan berikan kepadanya jalan-jalan Kami”?
Karakteristik yang kelima: Perawat memiliki rasa kasih yang tinggi pada sesame
makhluk Tuhan. “The fifth and final component of spiritual intelligence refers
to the capacity to engage in virtuous behavior: to show forgiveness, to express
gratitude, to be humble, to display compassion and wisdom,” tulis Emmons.
Memberi maaf, bersyukur atau
mengungkapkan terimakasih, bersikap rendah hati, menunjukkan kasih sayang dan
kearifan, hanyalah sebagian dari kebajikan. Karakteristik terakhir ini mungkin
disimpulkan dalam sabda nabi Muhammad saw, “Amal paling utama ialah engkau
masukkan rasa bahagia pada sesama manusia.”
Langkah menuju SQ yang optimal
“Kecerdasan Spiritual”
disimbolkan sebagai Teratai Diri yang menggabungkan tiga kecerdasan dasar
manusia (rasional, emosional, dan spiritual), tiga pemikiran (seri, asosiatif,
dan penyatu ), tiga jalan dasar pengetahuan (primer, sekunder, dan tersier) dan
tiga tingkatan diri (pusat transpersonal, tengah-asosiatif & interpersonal,
dan pinggiran-ego personal).
Hambatan spiritual yang akan Kita hadapi:
1. tidak
mengembangkan beberapa bagian dari dirinya sendiri sama sekali
2. telah
mengembangkan beberapa bagian, namun tidak proporsional,
3. bertentangannya / buruknya hubungan antara bagian-bagian.
Langkah
Menuju Kecerdasan Spiritual Lebih Tinggi:
1. menyadari di mana saya sekarang,
2. merasakan dengan kuat bahwa saya ingin
berubah,
3. merenungkan apakah pusat saya sendiri
dan apakah motivasi saya yang paling dalam, (menemukan dan mengatasi
rintangan)
4. menggali banyak kemungkinan untuk
melangkah maju,
5. menetapkan hati saya pada sebuah jalan,
6. tetap
menyadari bahwa ada banyak jalan.
Spiritual Intellegence yang optimal
memiliki karakteristik, yaitu:
1. kemampuan
bersikap fleksibel,
2.tingkat kesadaran diri tinggi,
3. kemampuan
untuk menghadapi dan
4. memanfaatkan
penderitaan,
5. kemampuan
untuk menghadapi dan melampaui rasa sakit,
6. kualitas
hidup yang diilhami oleh visi dan nilai-nilai,
7. keengganan untuk menyebabkan kerugian yang tidak perlu,
8. kecenderungan untuk melihat keterkaitan antara berbagai hal (berpandangan
holistik)
9. kecenderungan nyata untuk bertanya “Mengapa?” atau
“Bagaimana jika?” untuk mencari jawaban yang mendasar,
10.memiliki kemudahan untuk bekerja melawan konvensi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar