Senin, 23 Februari 2015

Potensi Diri


Pengertian potensi diri adalah kemampuan dan kekuatan yang dimiliki oleh seseorang baik fisik maupun mental yang dimiliki seseorang dan mempunyai kemungkinan untuk dikembangkan bila dilatih dan ditunjang dengan sarana yang baik, sedangkan diri adalah seperangkat proses atau ciri-ciri proses fisik,prilaku dan psikologis yang dimiliki.

Kekhasan potensi diri yang dimiliki oleh seseorang berpengaruh besar pada pembentukan pemahaman diri dan konsep diri. Ini juga terkait erat dengan prestasi yang hendak diraih didalam hidupnya kelak. Kekurangan dan kelebihan yang dimiliki dalam konstek potensi diri adalah jika terolah dengan baik akan memperkembangkan baik secara fisik maaupun mental. Aspek diri yang dimiliki seseorang yang patut untuk diperkembangkan antara lain:

· Diri fisik : meliputi tubuh dan anggotanya beserta prosesnya.
· Proses diri : merupakan alur atau arus pikiran, emosi dan tingkah laku yang konstan.
· Diri sosial : adalah bentuk fikiran dan perilaku yang diadopsi saat merespon orang lain dan masyarakat sebagai satu kesatuan yang utuh.
· Konsep diri : adalah gambaran mental atau keseluruhan pandangan seseorang tentang dirinya

Potensi fisik yang dimaksud dalam kesempatan kali ini adalah menyangkut dengan keadaan dan kesehatan tubuh wajah, dan ketahanan tubuh,
sedangkan Potensi psikis berhubungan dengan IQ (Intelegensi Quotient), EQ ( Emotional Quotient), AQ ( Addversity quotient) dan SQ ( Spiritual Quotient).


 1. Kecerdasan Fisik (Physical Quotient – PQ)



  Kecerdasan Fisik (PQ) adalah kecerdasan yang dimiliki oleh tubuh kita. Kita sering tidak memperhitungkannya. Coba renungkan : Tanpa adanya perintah dari kita tubuh kita menjalankan sistem pernafasan, sistem peredaran darah, sistem syaraf dan sistem-sistem vital lainnya.



Tubuh kita terus menerus memantau lingkungannya, menghancurkan sel pembawa penyakit, mengganti sel yang rusak dan melawan unsur-unsur yang mengganggu kelangsungan hidup. Seluruh proses itu berjalan di luar kesadaran kita dan berlangsung setiap saat dalam hidup kita. Ada kecerdasan yang menjalankan semuanya itu dan sebagian besar berlangsung di luar kesadaran kita.



2. Kecerdasan Intelektual (Intelligence Quotient – IQ)


  IQ adalah kemampuan nalar, atau pikiran orang sering menyebutnya dengan kemampuan Otak Kiri. Yaitu kemampuan kita untuk mengetahui, memahami, menganalisis, menentukan sebab akibat, berpikir abstrak, berbahasa, memvisualkan sesuatu.

  Di zaman dulu IQ dijadikan ukuran utama kecerdasan seseorang. Baru kemudian disadari bahwa konsep dan batasan-batasan di atas seperti itu terlalu mempersempit kecerdasan tersebut.
Otak kiri bertanggung jawab untuk “”pekerjaan” verbal, kata-kata, bahasa, angka-angka, matematika, urut-urutan, logika, analisa dan penilaian dengan cara berpikir linier. Melatih dan membelajarkan otak kiri akan membangun kecerdasan intelektual (IQ). Otak kanan bertanggungjawab dan berkaitan dengan gambar, warna, musik, emosi, seni/artistik, imajinasi, kreativitas, dan intuitif.
Menurut para ahli IQ - Intelligence Quotient, dapat ditingkatkan dengan latihan sederhanadan mengubah kebiasaan-kebiasaan tertentu, caranya sebagai berikut :

L   Latihan pernapasan dalam
  Pernapasan dalam meningkatkan aliran darah dan oksigen ke otak, juga merilekskan kita sehingga meningkatkan fungsi efektif otak. Cara melakukanya mudah, pejamkan mata dan tarik nafas lewat hidung, sehingga paru-paru dipenuhkan sampai kapasitasnya, lalu hembuskan secara perlahan.


Saat melakukan pernapasan dalam hilangkan semua pikiran yang masuk kedalam kepala anda. Coba jangan pikirkan apapun kecuali efek penenangan dan perileksan dari saraf dan tubuh. Cara ini sangat berguna dan efektif untuk menyelesaikan masalah secara kreatif.

 Ketika anda selesai melakukan latihan yang hanya perlu waktu 2 sampai 4 menit ini, kemampuan anda untuk menyelesaikan masalah akan meningkat paling sedikit 80%. Pikiran akan merasa jernih dalam sekejap jika dilakukan hanya 5 kali berturut-berturut, anda juga akan lebih bisa mengkoordinasikan pemikiran sehingga menjadi lebih jelas.

2.       Jaga postur tubuh
  Postur tubuh dapat menentukan seberapa baik anda berfungsi. Berdiri bungkuk dan mulut terbuka mengurangi kemampuan berpikir jernih.Untuk membuktikan hal ini, coba duduk membungkuk dengan mulut terbuka sambil menyelesaikan soal matematika didalam pikiran.Kemungkinan anda akan menemukan, anda tidak bisa menyelesaikan masalah secara cepat dan tidak bisa berfikir secara jernih.

Lakukan olahraga untuk membantu meningkatkan aliran darah ke otak. Aerobik apa saja bisa memberikan hasiat ini.


3.       Perhatikan makanan
  Jangan makan segala sesuatu yang mengandung gula sederhana secara berlebihan. Semua karbohidrat sederhana, jika dimakan sejumlah banyak, secara umum membuat lelah yang bukan hanya akan membuat anda lebih lamban dalam berpikir, tapi juga membuat lamban secara fisik.

3. Kecerdasan Emosional (Emosional Quotient – EQ)

  EQ adalah pengetahuan mengenai diri sendiri, kesadaran diri, kepekaan sosial, empati dan kemampuan untuk berkomunikasi dengan baik dengan orang lain. Kecerdasan Emosi adalah kepekaan mengenai waktu yang tepat, kepatutan secara sosial, dan keberanian untuk mengakui kelemahan, menyatakan dan menghormati perbedaan. EQ digambarkan sebagai kemampuan otak kanan dan dianggap lebih kreatif, tempat intuisi, pengindraan, dan bersifat holistik atau menyeluruh


  Penggabungan pemikiran (otak kiri) dan perasaan (otak kanan) akan menciptakan keseimbangan, penilaian dan kebijaksanaan yang lebih baik. Dalam jangka panjang, kecerdasan emosional akan merupakan penentu keberhasilan dalam berkomunkasi, relasi dan dalam kepemimpinan dibandingkan dengan kecerdasan intelektual (nalar).

Seseorang yang memiliki IQ tinggi tetapi memiliki kecerdasan emosionalnya (EQ) rendah, dia tidak tahu bagaimana membangun hubungan dengan orang lain. Orang itu mungkin akan menutupi kekurangannya itu dengan bersandar pada kemampuan intelektualnya dan akan mengandalkan posisi formalnya.

  Pengertian EQ : Istilah kecerdasan emosi (EQ) baru dikenal secara luas pada pertengahan tahun 1990 dengan diterbitkannya buku Darnel Goleman : Emotional Intelligence. Goleman menjelaskan bahwa kecerdasan emosi (Emotional Intellegence) adalah kemampuan untuk mengenali perasaan kita sendiri dan kemampuan mengelola emosi dengan baik pada diri sendiri dan dalam hubungan dengan orang lain.

  Menggunakan ungkapan Howard Gardner, kecerdasan emosi terdiri dari kecakapan, diantaranya : intrapersonal intelligence dan interpersonal intellegence. Intrapersonal intelligence merupakan kecakapan mengenali perasaan kita sendiri yang terdiri dari :

A. Kesadaran diri meliputi : keadaan emosi diri, penilaian pribadi,  percaya diri.
B. Pengaturan diri meliputi : pengendalian diri, dapat dipercaya, waspada adaptif dan inovatif.
C. Motivasi meliputi : dorongan berprestasi, komitmen, inisiatif  dan optimis.
  
Sedangkan interpersonal intelligence merupakan kecakapan berhubungan dengan orang lain yang terdiri dari :
A. Empati meliputi : memahami orang lain, pelayanan, mengembangkan orang lain, mengatasi keragaman dan kesadaran politis.
B. Ketrampilan sosial meliputi : pengaruh, komunikasi, kepemimpinan, katalisator perubahan, manajemen konflik, pengikat jaringan, kolaborasi dan koperasi serta kerja team.

  Tiga langkah kembangkan EQ :
A. Membuka hati : ini adalah langkah pertama karena hati adalah simbol pusat emosi. Hati kitalah yang merasa damai saat kita berbahagia, hati kita merasa tidak nyaman ketika sakit, sedih, marah atau patah hati. Kita mulai dengan membebaskan pusat perasaan kita dari impuls dan pengaruh yang membatasi kita untuk menunjukkan cinta satu sama lain.

B. Menjelajahi dataran emosi : sekali kita telah membuka hati, kita dapat melihat kenyataan dan menemukan peran emosi dalam kehidupan. Kita dapat berlatih cara mengetahui apa yang kita rasakan. Kita mengetahui emosi yang dialami orang lain. Singkatnya, kita menjadi lebih baik dan bijak menanggapi perasaan kita dan perasaan orang di sekitar kita.

C.  Mengambil tanggung jawab : untuk memperbaiki dan mengubah kerusakan hubungan, kita harus mengambil tanggung jawab. Kita dapat membuka hati kita dan memahami peta dataran emosional orang di sekitar kita.

4. Kecerdasan Spriritual (Spiritual Quotient – SQ)

  Sebagaimana EQ, maka SQ juga merupakan arus utama dalam kajian dan diskusi folosofis dan psikologis. Kecerdasan spiritual merupakan pusat dan paling mendasar di antara kecerdasan lainnya, karena dia menjadi sumber bimbingan atau pengarahan bagi tiga kecerdasan lainnya. Kecerdasan spiritual mewakili kerinduan kita akan makna dan hubungan dengan yang tak terbatas.


Kecerdasan Spiritual juga membantu kita untuk mencerna dan memahami prinsip-prinsip sejati yang merupakan bagian dari nurani kita, yang dapat dilambangkan sebagai kompas. Kompas merupakan gambaran fisik yang bagus sekali bagi prinsip, karena dia selalu menunjuk ke arah utara.


  Selama ini, yang namanya “kecerdasan” senantiasa dikonotasikan dengan Kecerdasan Intelektual” atau yang lazim dikenal sebagai IQ saja (Intelligence Quotient). Namun pada saat ini, anggapan bahwa kecerdasan manusia hanya tertumpu pada dimensi intelektual saja sudah tidak berlaku lagi. Selain IQ, manusia juga masih memiliki dimensi kecerdasan lainnya, diantaranya yaitu : Kecerdasan Emosional atau EQ (Emotional Quotient) dan Kecerdasan Spiritual atau SQ (Spiritual Quotient). 

Lima karakteristik orang yang cerdas secara spiritual menurut Roberts A. Emmons, The Psychology of Ultimate Concerns:
ü  kemampuan untuk mentransendensikan yang fisik dan material
ü  kemampuan untuk mengalami tingkat kesadaran yang memuncak
ü  kemampuan untuk mensakralkan pengalaman seharihari
ü  kemampuan untuk menggunakan sumber-sumber spiritual buat menyelesaikan masalah,dan kemampuan untuk berbuat baik
  Dua karakteristik yang pertama sering disebut sebagai komponen inti kecerdasan spiritual. Sebagai contoh perawat menyampaikan doa-doa personalnya dalam salat malamnya, mendoakan kesembuhan luka kliennya, memuali tindakan dengan bismillah, mengisi waktu luang dengan Sholat dluha, silaturahmi dengan keluarga klien.
  Ciri yang ketiga, terjadi ketika kita meletakkan pekerjaan biasa dalam tujuan yang agung. Konon, pada abad pertengahan seorang musafir bertemu dengan dua orang pekerja yang sedang mengangkut batu-bata. Salah seorang di antara mereka bekerja dengan muka cemberut, masam, dan tampak kelelahan. Kawannya justru bekerja dengan ceria, gembira, penuh semangat. Ia tampak tidak kecapaian. Kepada keduanya ditanyakan pertanyaan yang sama, “Apa yang sedang Anda kerjakan?” Yang cemberut menjawab, “Saya sedang menumpuk batu.” Yang ceria berkata, “Saya sedang membangun menara mesjid!” Yang kedua telah mengangkat pekerjaan “menumpuk bata” pada dataran makna yang lebih luhur. Perawat yang sedang melakukan kompres selayaknya mengatakan “Saya sedang mensyukuri nikmat Allah yang telah menganugerahkan air yang sangat banyak manfaatnya”
Ketika seorang perawat diberitahu bahwa orang kantornya tidak akan sanggup menyekolahkannya, ia tidak putus asa. Ia yakin bahwa kalau orang itu bersungguhsungguh dan minta pertolongan kepada Tuhan, ia akan diberi jalan. Bukankah Tuhan berfirman, “Orang-orang yang bersungguh-sungguh di jalan Kami, Kami akan berikan kepadanya jalan-jalan Kami”?
  Karakteristik yang kelima: Perawat memiliki rasa kasih yang tinggi pada sesame makhluk Tuhan. The fifth and final component of spiritual intelligence refers to the capacity to engage in virtuous behavior: to show forgiveness, to express gratitude, to be humble, to display compassion and wisdom,” tulis Emmons.
  Memberi maaf, bersyukur atau mengungkapkan terimakasih, bersikap rendah hati, menunjukkan kasih sayang dan kearifan, hanyalah sebagian dari kebajikan. Karakteristik terakhir ini mungkin disimpulkan dalam sabda nabi Muhammad saw, “Amal paling utama ialah engkau masukkan rasa bahagia pada sesama manusia.”

Langkah menuju SQ yang optimal
 “Kecerdasan Spiritual” disimbolkan sebagai Teratai Diri yang menggabungkan tiga kecerdasan dasar manusia (rasional, emosional, dan spiritual), tiga pemikiran (seri, asosiatif, dan penyatu ), tiga jalan dasar pengetahuan (primer, sekunder, dan tersier) dan tiga tingkatan diri (pusat transpersonal, tengah-asosiatif & interpersonal, dan  pinggiran-ego personal).

Hambatan spiritual yang akan Kita hadapi:

1. tidak mengembangkan beberapa bagian dari dirinya sendiri sama sekali
2. telah mengembangkan beberapa bagian, namun tidak proporsional,
3. bertentangannya / buruknya hubungan antara bagian-bagian.

Langkah Menuju Kecerdasan Spiritual Lebih Tinggi:
1. menyadari di mana saya sekarang,
2. merasakan dengan kuat bahwa saya ingin berubah,
3. merenungkan apakah pusat saya sendiri dan apakah motivasi saya yang paling dalam, (menemukan dan mengatasi rintangan)
4. menggali banyak kemungkinan untuk melangkah maju,
5. menetapkan hati saya pada sebuah jalan,
6. tetap menyadari bahwa ada banyak jalan.

Spiritual Intellegence yang optimal memiliki karakteristik, yaitu:
1. kemampuan bersikap fleksibel,
2.tingkat kesadaran diri tinggi,
3. kemampuan untuk menghadapi dan
4. memanfaatkan penderitaan,
5. kemampuan untuk menghadapi dan melampaui rasa sakit,
6. kualitas hidup yang diilhami oleh visi dan nilai-nilai,
7. keengganan untuk menyebabkan kerugian yang tidak perlu,
8. kecenderungan untuk melihat keterkaitan antara berbagai hal (berpandangan holistik)
9. kecenderungan nyata untuk bertanya “Mengapa?” atau “Bagaimana jika?” untuk mencari jawaban yang mendasar,

10.memiliki kemudahan untuk bekerja melawan konvensi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar